Kamis, 19 Juni 2014

Inilah Saatnya Bagi Kami

Pada awal tahun 2011 akhirnya saya pulang ke kampung halaman karena lolos seleksi CPNS yang saya ikuti karena patuh pada keinginan kedua orang tua. Beberapa waktu sebelumnya suami yg saat itu masih berstatus pacar juga baru diterima sebagai pegawai salah satu BUMN dan belum bisa dipastikan daerah penempatannya. Kami berdua sepakat agar saya ikuti kemauan orang tua dan jika nanti kami menikah maka saya akan resign dan ikut mendampingi suami.

Bulan Januari 2012 kami resmi menikah setelah suami menyelesaikan OJT (On the Job Training) dan mendapatkan penempatan dinas di Sungai Gerong yang berjarak sekitar 30 menit dari kota Palembang, Sumatera Selatan. Saya tetap bekerja di kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat yang berjarak kurang lebih 16 jam perjalanan darat ke tempat suami berdomisili.

Pada awalnya terasa biasa saja karena semuanya terlihat menarik untuk dilalui. Suasana baru, pengalaman baru hidup bersama suami dan semua terasa baik-baik saja. Satu bulan, dua bulan dan tidak terasa akhirnya berbulan-bulan terlewati dengan intensitas rutin bulanan saya mengunjungi suami. Hampir selalu saya yang mengunjungi suami karena tidak mau mengganggu pekerjaannya.

Pihak keluarga selalu menekankan untuk tidak meninggalkan pekerjaan saya sebagai PNS dan menyarankan untuk mengurus mutasi saja ke Palembang. Setelah hampir putus asa pada bulan April 2013 saya mendapatkan rekomendasi lolos butuh di salah satu rumah sakit yang berjarak tidak jauh dari rumah kami di palembang. Bulan itu juga saya harus menerima kabar pahit kepulangan papa ke Rahmatullah di saat saya sedang mengunjungi suami. Saya tidak mendampingi papa di saat-saat terakhirnya..

Apapun yang terjadi kehidupan tetap berjalan dan saya merasa cukup optimis untuk mengurus proses mutasi. Saya merasa sangat antusias dan mulai membayangkan kehidupan yang lengkap di samping suami setiap harinya. Pada bulan Agustus 2013 akhirnya berkas-berkas tersebut lengkap dan saya masukkan ke biro kepegawaian Kemenkes RI agar bisa diproses secepatnya.

Satu bulan, dua bulan dan akhirnya jadi beberapa bulan saya tidak mendapatkan jawaban yang pasti mengenai proses mutasi tersebut. Pihak biro kepegawaian menolak permohonan mutasi tersebut dengan alasan masa kerja yang belum genap lima tahun. Logika saya hampir tidak bisa menerima alasan tersebut. Bagaimana bisa proses mutasi dengan berkas-berkas yang lengkap ditolak karena alasan yang tidak saya ketahui pasti dasar aturannya.

Dengan pengharapan yang semakin tipis saya tetap berusaha melalui semuanya meski kesabaran itu nyaris tidak tersisa di dalam diri saya. Bagaimana saya melalui perjalanan darat 16 jam setiap bulannya. Tentunya saya tidak bisa hanya mengharapkan weekend sehingga saya harus sering ijin tidak masuk kantor dengan berbagai alasan yang harus saya pikirkan dan masuk akal. Semua itu saya lalui dan terasa semakin putus asa dengan belum adanya momongan yang sangat kami nanti-nantikan.

Di satu ketika suami mencoba menyampaikan maksud saya untuk berhenti kepada ibu mertua saya. Namun ide tersebut ditolak mentah-mentah dengan alasan betapa susahnya agar bisa menjadi PNS di jaman sekarang. Saya pun tetap berusaha meyakinkan diri dan mencari jalan keluar agar tetap bisa mempertahankan pekerjaan dan bisa berkumpul dengan suami.

Setelah 2,5 tahun menjalani pernikahan LDR, mencari-cari kesempatan dan alasan untuk bisa menemui suami akhirnya saya sampai pada titik jenuh. Saya merasa sangat jenuh dan lelah melalui kehidupan seperti ini. Semua yang ingin kami lakukan terkendala jarak yang tidak sedikit.  Gaji saya sebagai PNS pun hanya habis untuk membiaya ongkos pulang pergi ke palembang. Saya merasa sangat letih fisik dan pikiran..

Semua ini membuat saya bertanya-tanya. Apa yang saya kejar dengan semua pengorbanan ini? Bagaimana 2,5 tahun pernikahan kami terlewati begitu saja tanpa kehidupan suami istri yang selayaknya. Apakah semua pengorbanan ini layak hanya untuk mempertahankan pekerjaan PNS saja? Apa artinya saya tidak akan memiliki kehidupan yang cukup baik kalau menjadi ibu rumah tangga saja? Bagaimana bisa kami menjalani program memiliki momongan jika tetap LDR? Berbagai macam pertanyaan demi pertanyaaan berputar-putar dalam benak saya. Dan saya ingin meninggalkan pekerjaan ini demi menggapai ridha suami. Saya ingin menjadi istri yang baik. Ingin menjadi ibu bagi anak-anak kami. Jika memang nanti terjadi hal-hal yang tidak diharapkan saya siap dengan konsekuensinya. Bagaimana bisa kita yakin dengan masa depan. Cukup Allah SWT yang menjamin kehidupan keluarga saya.

Sekarang saya ingin meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah yang terbaik. Selanjutnya berusaha meyakinkan keluarga agar mereka bisa mengerti dan merestui keputusan kami. Insya Allah jika diniatkan dengan baik, saya yakin nanti juga akan berjalan baik. Bismillahirrahmanirrahim..

Minggu, 27 April 2014

Hidup Penuh Dengan Penantian

Akhir-akhir ini saya banyak berpikir tentang berbagai hal dalam kehidupan yang saya jalani. Dari semua hasil pemikiran tersebut saya menyimpulkan bahwa hidup ini penuh dengan penantian.

Semenjak saya merasa cukup dewasa dan memiliki kesadaran atas diri sendiri, saya menghadapi begitu banyak penantian. Di saat masih single menanti untuk menikah, setelah menikah menanti untuk memiliki keturunan dan menanti untuk bisa berkumpul bersama suami. Dua hal terakhir adalah penantian-penantian yang saya tunggu saat ini.

Bukannya saya tidak berusaha dan hanya menanti. Segala upaya yang memungkinkan untuk dilakukan telah saya coba. Untuk punya keturunan saya coba menemui suami seintens yang saya bisa, coba memeriksakan diri secara medis maupun alternatif dan berdoa serta meminta kepada Tuhan. Namun ya setelah semua upaya itu pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menanti. Menanti semua upaya tersebut membuahkan hasilnya.

Dalam hal upaya untuk bisa berkumpul dengan suami saya juga telah lakukan semaksimal yang saya bisa. Saya mengurus proses mutasi pekerjaan dengan menghadapi birokrasi pemerintahan yang penuh lika liku. Saya coba lalui dengan tabah, tanpa melewatkan celah yang ada untuk mempercepat proses mutasi tersebut. Namun apa daya, lagi-lagi hal terakhir yang bisa saya lakukan adalah menanti prosesnya berjalan sesuai harapan setelah semua upaya tersebut.

Ternyata di dalam hidup ini ada begitu banyak hal yang tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana kita. Kadang hal yang terlihat mudah dilakukan orang lain bisa menjadi hal yang sangat sukar bagi kita. Bukan karena kita tidak berupaya, namun mungkin memang Tuhan belum menakdirkannya. Segala cerita mengenai optimisme dan pantang menyerah itu tidak semudah realitanya. Pada akhirnya kita merasa lelah dan memasrahkan semua hasil dari upaya tersebut kepada Tuhan.

Itulah segelintir cerita dari pemikiran absurd menjelang tidur di malam ini. Selamat malam.. :)

Back to Blogger

I am back!

Sebenernya udah sejak beberapa bulan yang lalu pengen ngeblog lagi, tapi masih nunggu modemnya biar bisa lebih gampang ngetik di laptop. Saking ngga sabarnya ya bela-belain pake hp dulu.. hehehe..